Untuk mencapai target LCP di bawah 2 detik, langkah paling krusial yang harus dilakukan adalah: mendapatkan respons server yang cepat, mengidentifikasi elemen terbesar yang terlihat di halaman secara tepat, mengompresi dan memprioritaskan gambar hero, mengurangi beban CSS dan JavaScript yang tidak perlu, memanfaatkan cache dan CDN, mengoptimalkan font, serta mengukur perubahan menggunakan data pengguna nyata. Largest Contentful Paint mengukur seberapa cepat elemen konten terbesar—baik itu blok teks, gambar, poster video, atau gambar latar—dimuat di layar pengguna. Menurut standar Google, skor LCP yang baik adalah di bawah 2,5 detik; namun, untuk persaingan SEO yang ketat, konversi tinggi, dan pengalaman pengguna yang lebih mulus, target di bawah 2 detik adalah sasaran yang praktis dan sangat mungkin dicapai.
Dalam panduan ini, kami akan membahas masalah LCP bukan sekadar perbaikan skor teknis, melainkan sebagai proyek performa yang berdampak langsung pada pengalaman pengunjung. Kami akan fokus pada langkah-langkah yang paling sering membuahkan hasil di lapangan, seperti infrastruktur hosting, TTFB, optimasi gambar, sumber daya yang memblokir render, plugin WordPress, CDN, dan lapisan cache. Jika website Anda terasa lambat dibuka, mendapat peringatan LCP di laporan PageSpeed Insights, atau mengalami penurunan peringkat dan konversi di trafik seluler, Anda bisa meraih peningkatan yang terukur dengan menerapkan daftar periksa berikut secara berurutan.
Apa Itu LCP dan Mengapa Target di Bawah 2 Detik Penting?
LCP adalah salah satu metrik Core Web Vitals yang mengukur seberapa cepat konten utama halaman muncul bagi pengguna. FCP atau First Contentful Paint melacak momen munculnya konten pertama, INP melacak penundaan interaksi, dan CLS memantau stabilitas visual. Sementara itu, LCP berfokus pada momen dimuatnya konten besar yang benar-benar dinantikan pengguna. Di halaman produk, elemen LCP biasanya adalah gambar produk; di postingan blog, bisa jadi gambar sampul atau area judul; dan di beranda, biasanya berupa banner besar.
Google menetapkan ambang batas LCP yang baik di 2,5 detik. Namun, batas ini hanya menunjukkan pengalaman yang tidak bermasalah. Dalam standar SEO 2026, terutama dengan pemindaian yang mengutamakan seluler, hasil pencarian berbasis AI, struktur SERP yang sangat kompetitif, dan kesabaran pengguna yang menipis, target di bawah 2 detik adalah sasaran performa yang jauh lebih aman. Di situs e-commerce, SaaS, website korporat, dan situs konten, penundaan bahkan 1 detik saja dapat meningkatkan rasio pentalan dan menurunkan konversi seperti pengisian formulir, penambahan ke keranjang, atau permintaan penawaran.
Optimalisasi LCP juga penting tidak hanya untuk mesin pencari, tetapi juga untuk persepsi merek. Jika pengguna membuka halaman dan mendapati layar kosong, gambar yang terlambat muncul, atau tata letak yang melompat-lompat, mereka mungkin menganggap situs tersebut tidak terpercaya. Oleh karena itu, dasar-dasar seperti memilih hosting cepat Hosting Web Hostragons, menyediakan koneksi yang aman dan modern dengan SSL sertifikat SSL, serta membangun kepercayaan merek dengan nama domain yang tepat Kueri Domain merupakan bagian dari upaya peningkatan performa.
Ukur Skor LCP Anda dengan Tepat: Data Lab vs. Data Pengguna Nyata
Sebelum memulai optimasi, Anda harus mengukur kondisi saat ini dengan benar. PageSpeed Insights, Lighthouse, Chrome DevTools, WebPageTest, dan laporan Core Web Vitals di Google Search Console adalah alat yang paling sering digunakan. Namun, menafsirkan hasil dari alat-alat ini secara seragam adalah tindakan yang keliru. Lighthouse menghasilkan data lab; ia menguji dalam kondisi perangkat, jaringan, dan simulasi tertentu. Sementara itu, CrUX dan Search Console menampilkan data pengguna nyata. Dalam proses menurunkan LCP ke bawah 2 detik, Anda perlu menggunakan kedua jenis data ini secara bersamaan.
Metrik dasar yang harus Anda lacak
- Elemen LCP: Gambar, teks, atau blok mana yang ditandai sebagai LCP di halaman?
- TTFB: Berapa lama waktu yang dibutuhkan server untuk mengirim byte pertama? Target ideal untuk sebagian besar halaman adalah di rentang 200-500 md.
- Penundaan Render: Meskipun sumber daya sudah tersedia, mengapa browser terlambat menggambar elemen?
- Penundaan Muat Sumber Daya: Seberapa terlambat permintaan elemen LCP dimulai?
- Durasi Muat Sumber Daya: Apakah ukuran file atau latensi jaringan menyebabkan masalah saat mengunduh sumber daya LCP?
Misalnya, di sebuah postingan blog WordPress, jika elemen LCP adalah gambar sampul WebP berukuran 320 KB, masalahnya biasanya masih dalam level yang bisa dikelola. Namun, jika gambar yang sama adalah JPEG 2,8 MB dan tidak muncul sebelum file CSS dimuat, LCP dapat dengan mudah melonjak ke 4-5 detik. Di contoh lain, jika ukuran file kecil tetapi TTFB-nya 1,4 detik, maka masalahnya bukan pada gambar, melainkan pada hosting, kueri basis data, atau kurangnya cache.
Penyebab Paling Umum Masalah LCP
Masalah LCP biasanya bukan disebabkan oleh satu hal saja, melainkan oleh rangkaian penundaan berantai. Server merespons lambat, HTML datang terlambat, CSS kritis memblokir render, gambar LCP terlambat ditemukan, JavaScript menyibukkan thread utama, dan pertukaran font menunda konten. Karena itu, hanya memasang satu plugin atau mengompres satu gambar seringkali tidak cukup.
| Area Masalah | Gejala | Solusi Prioritas | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Hosting lambat atau TTFB tinggi | Respons pertama di atas 800 md | LiteSpeed, NVMe, pembaruan PHP, cache server | Tinggi |
| Gambar hero besar | Elemen LCP di atas 1 MB | WebP/AVIF, ukuran tepat, preload | Tinggi |
| CSS memblokir render | Konten tidak muncul sebelum CSS selesai | CSS Kritis, pembersihan CSS tidak terpakai | Tinggi |
| JavaScript berlebihan | Thread utama sibuk, render terlambat | Defer, delay, pemecahan kode | Sedang-Tinggi |
| Font tidak teroptimasi | Teks terlambat muncul | Font-display swap, preload, font lokal | Sedang |
| Tidak ada CDN dan cache | Pembukaan lambat di lokasi jauh | CDN, cache browser, edge cache | Sedang-Tinggi |
Anda bisa menganggap tabel ini sebagai peta prioritas. Target pertama adalah menemukan langkah yang menciptakan penundaan terbesar dalam rantai LCP. Jika TTFB tinggi, sisi server dan cache harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum optimasi gambar. Jika TTFB sudah baik tetapi gambar LCP terlambat dimuat, maka format, ukuran, dan prioritas gambar harus segera ditangani.
1. Turunkan Waktu Respons Server
Dasar dari optimasi LCP adalah respons server yang cepat. Jika dokumen HTML datang terlambat, browser juga akan terlambat menemukan sumber daya CSS, JS, dan gambar. Karena itu, di situs dengan nilai TTFB tinggi, langkah pertama untuk memperbaiki LCP adalah meninjau infrastruktur hosting. Jika sumber daya shared hosting tidak mencukupi, batas CPU sering penuh, atau respons basis data melambat, optimasi halaman hanya akan berdampak terbatas.
Pemeriksaan yang bisa diterapkan di sisi hosting
- Perbarui versi PHP ke rilis yang stabil dan terkini. Versi PHP lawas dapat menyebabkan perlambatan serius di WordPress dan struktur CMS modern.
- Periksa fitur performa seperti disk NVMe, infrastruktur berbasis LiteSpeed atau NGINX, serta dukungan HTTP/2 atau HTTP/3.
- Pilih lokasi server yang dekat dengan target audiens utama Anda. Untuk situs yang menyasar pengunjung Indonesia, lokasi server di Indonesia atau kawasan Asia Tenggara akan mengurangi latensi.
- Bersihkan tabel basis data, hapus revisi yang tidak perlu dan data sementara.
- Untuk situs dengan trafik tinggi, pertimbangkan paket VPS, cloud server, atau hosting yang skalabel VPS Server.
Sebagai target praktis, upayakan untuk menurunkan nilai TTFB ke 200-400 md di desktop, dan sebisa mungkin di bawah 500 md di seluler. Tentu saja, target ini bisa berbeda untuk halaman yang dinamis, dipersonalisasi, atau intensif menggunakan basis data. Namun, untuk halaman blog, halaman korporat, dan halaman kategori, nilai-nilai ini sangat mungkin dicapai dengan konfigurasi cache yang baik.
2. Identifikasi dan Prioritaskan Elemen LCP
Optimasi yang dilakukan tanpa mengetahui elemen LCP hanyalah berdasarkan tebakan. Anda dapat melihat elemen LCP di panel Performance Chrome DevTools atau di laporan PageSpeed Insights. Elemen ini seringkali berupa gambar sampul di bagian atas halaman, slider, blok judul besar, atau poster video. Setelah elemen LCP teridentifikasi, Anda harus memberi tahu browser bahwa sumber daya ini penting.
Pendekatan yang disarankan untuk gambar hero
- Kecualikan gambar LCP dari lazy load. Gambar utama di paro atas layar tidak boleh dimuat secara malas (tunda).
- Definisikan gambar sedini mungkin di dalam HTML. Gambar hero yang diberikan sebagai latar CSS terkadang lebih lambat ditemukan.
- Dalam situasi yang sesuai, gunakan preload dan fetch priority tinggi.
- Sajikan ukuran yang berbeda untuk seluler dan desktop. Jangan kirimkan gambar 1920 px ke layar seluler selebar 390 px.
- Tentukan dimensi gambar dengan atribut width dan height. Ini sekaligus mengurangi risiko CLS.
Misalnya, jika elemen LCP di beranda Anda adalah banner 1600x900 piksel, menyajikan versi WebP selebar 720 px untuk seluler akan membuat perbedaan besar. Setelah dikompresi, ukuran gambar bisa turun dari 1,5 MB ke kisaran 180-250 KB. Perubahan tunggal ini dapat meningkatkan skor LCP seluler lebih dari 1 detik.
3. Optimalkan Gambar dengan WebP atau AVIF
Gambar adalah penyebab paling umum dari masalah LCP. Khususnya di situs WordPress, resolusi asli gambar yang diunggah bisa sangat besar, dan meskipun tema menampilkannya kecil di layar, browser tetap harus mengunduh file besar tersebut. Oleh karena itu, Anda tidak cukup hanya mengompres gambar, tetapi harus menyajikannya dalam ukuran yang tepat.
Daftar periksa optimasi gambar
- Konversi file JPEG dan PNG ke format WebP atau AVIF jika memungkinkan.
- Kompres gambar sampul pada tingkat kualitas yang masih dapat diterima. Umumnya, rentang kualitas 70-85 persen memberikan hasil yang baik.
- Gunakan struktur gambar responsif. Berkat logika srcset, ukuran yang berbeda dikirim ke layar yang berbeda.
- Bersihkan informasi EXIF dan metadata yang tidak perlu.
- Gunakan SVG untuk ikon jika memungkinkan; namun, sederhanakan juga file SVG kompleks yang tidak perlu.
Dalam skenario tipikal yang kami lakukan di sebuah situs konten, rata-rata gambar sampul blog berukuran 1,2 MB, dan setelah konversi WebP serta pengubahan ukuran yang tepat, bisa turun ke level 180 KB. Jika elemen LCP adalah gambar sampul ini, peningkatan kecepatan yang signifikan akan terasa, terutama di koneksi seluler 4G. Peningkatan ini tidak hanya memperbaiki skor PageSpeed, tetapi juga persepsi pertama pengguna.
4. Kurangi File CSS yang Memblokir Render
Saat browser menerima file HTML, ia membutuhkan aturan CSS untuk menggambar halaman. File CSS yang besar, tidak terpecah, dan tidak terpakai dapat menunda kemunculan elemen LCP. Terutama tema siap pakai dan page builder, seringkali memuat banyak file style yang tidak diperlukan di satu halaman.
Yang harus dilakukan di sisi CSS
- Buat CSS Kritis dan muat style yang diperlukan untuk paro atas layar lebih awal.
- Bersihkan kode CSS yang tidak terpakai atau muat berdasarkan per halaman.
- Perkecil file CSS, tetapi jangan hanya puas dengan minify; keuntungan utama ada pada pengurangan kode yang tidak perlu.
- Cegah file CSS plugin pihak ketiga agar tidak dimuat di semua halaman.
- Gunakan hanya komponen tema yang diperlukan; pertanyakan penggunaan slider besar, animasi, dan paket ikon.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah jangan sampai merusak integritas visual halaman saat membuat CSS Kritis. CSS Kritis yang salah konfigurasi dapat menyebabkan desain yang rusak terlihat di awal atau meningkatkan CLS. Karena itu, pengujian seluler dan desktop harus dilakukan secara terpisah setelah setiap perubahan.
5. Kendalikan Beban JavaScript
JavaScript dapat memengaruhi LCP dalam dua cara. Pertama, file JS dapat memblokir proses render. Kedua, JS dapat menyibukkan thread utama untuk waktu yang lama, sehingga menunda browser menggambar elemen LCP. Terutama kode pelacakan, alat live chat, skrip iklan, alat A/B testing, dan widget media sosial dapat menurunkan performa secara signifikan.
Taktik yang dapat diterapkan untuk JavaScript
- Tunda skrip yang tidak kritis dengan defer atau async.
- Tunda skrip pihak ketiga yang tidak diperlukan untuk tampilan awal hingga setelah ada interaksi pengguna.
- Nonaktifkan file JS yang tidak perlu dari plugin page builder secara per halaman.
- Gunakan pemecahan kode (code splitting) dan pemuatan berbasis modul untuk mengurangi tugas-tugas panjang (long tasks).
- Uji satu per satu dampak skrip analytics, piksel, dan chat, lalu ukur efeknya.
Misalnya, di sebuah website korporat, jika di beranda terdapat slider, pustaka animasi, embed peta, live chat, dan tiga kode pelacakan berbeda yang berjalan bersamaan, akan sulit untuk mencapai target LCP. Beberapa dari alat ini mungkin diperlukan untuk konversi; tetapi, tidak semuanya harus berjalan saat pemuatan pertama. Optimasi performa adalah tentang membuat prioritas tanpa merusak tujuan bisnis.
6. Percepat Font dan Jaga Visibilitas Teks

Di banyak halaman, elemen LCP bukanlah gambar, melainkan judul besar atau blok teks. Dalam kasus ini, keterlambatan memuat web font dapat secara langsung memengaruhi skor LCP. Memanggil banyak bobot dan gaya dari penyedia font eksternal menyebabkan penundaan, terutama di seluler.
Saran optimasi font
- Muat hanya bobot font yang digunakan. Periksa apakah Anda benar-benar membutuhkan semua variasi 300, 400, 500, 600, 700, dan italic.
- Gunakan font-display swap untuk mencegah teks tidak terlihat (invisible text).
- Lakukan preload pada font kritis, tetapi hindari penggunaan preload yang tidak perlu.
- Jika memungkinkan, sajikan font dari server lokal.
- Memilih system font adalah solusi tercepat dan paling sederhana di beberapa proyek.
Mengurangi file font mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya besar jika LCP adalah elemen tekstual. Selain itu, font juga berpengaruh pada CLS. Lebar teks dapat berubah saat font yang berbeda dimuat, dan tata letak halaman bisa bergeser. Oleh karena itu, performa dan desain visual harus dievaluasi bersama.
7. Konfigurasikan Lapisan Cache dan CDN dengan Benar
Caching secara serius meningkatkan performa LCP pada kunjungan berulang dan konten statis. Page cache, object cache, browser cache, dan CDN cache adalah lapisan yang berbeda. Tujuan semuanya adalah untuk menyajikan konten yang sama lebih cepat, alih-alih memproduksinya berulang kali atau memindahkannya dari server yang jauh.
Di situs WordPress, ketika LiteSpeed Cache, Redis object cache, cache browser, dan integrasi CDN digunakan bersama-sama, waktu produksi HTML dan pengiriman file statis menjadi lebih cepat. Sementara di proyek perangkat lunak korporat atau kustom, cache tingkat aplikasi, optimasi kueri basis data, dan strategi edge cache harus direncanakan. Jika trafik Anda datang dari berbagai kota dan negara, penggunaan CDN menjadi lebih penting lagi Panduan CDN dan Kecepatan Situs.
Hal yang perlu diperhatikan dalam konfigurasi cache
- Tentukan masa simpan cache yang panjang untuk file statis dan gunakan versioning file.
- Atur aturan HTML cache dengan hati-hati di area dinamis seperti keanggotaan, keranjang belanja, atau panel pribadi.
- Pertimbangkan optimasi gambar, kompresi Brotli, dan dukungan HTTP/3 di CDN.
- Rencanakan proses penghapusan cache sesuai dengan alur publikasi Anda.
- Jika cache berbeda diperlukan untuk seluler dan desktop, uji untuk memastikan tidak ada konten yang salah saji.
8. Rencana Khusus Peningkatan LCP untuk Situs WordPress
WordPress bisa menjadi cepat jika dikonfigurasi dengan benar; namun, penggunaan tema dan plugin yang tidak terkontrol akan meningkatkan skor LCP. Kesalahan paling umum yang kami lihat di situs WordPress adalah mencoba menyelesaikan masalah performa hanya dengan plugin cache. Padahal, pemilihan tema, jumlah plugin, disiplin gambar, dan kualitas hosting harus ditangani bersama Hosting WordPress.
Daftar periksa WordPress langkah demi langkah
- Gunakan tema yang ringan dan terkini. Pilih tema yang berorientasi pada kebutuhan, bukan tema dengan fitur berlebihan.
- Hapus plugin yang tidak perlu. Bahkan plugin pasif pun dapat menimbulkan risiko keamanan dan pengelolaan.
- Jika menggunakan page builder, kurangi beban widget global dan animasi.
- Ubah ukuran gambar sampul sebelum mengunggahnya.
- Konfigurasikan page cache, optimasi CSS/JS, dan optimasi gambar dengan hati-hati di plugin cache seperti LiteSpeed atau sejenisnya.
- Bersihkan revisi basis data, komentar spam, transients, dan draf secara berkala.
Di sebuah halaman blog contoh, LCP pada pengukuran awal bisa 4,1 detik. Jika TTFB 900 md, gambar sampul 1,8 MB, dan file CSS tema 450 KB, urutan solusinya jelas: pertama, turunkan TTFB dengan hosting dan cache; lalu, jadikan gambar sampul sebagai WebP yang responsif; terakhir, kurangi CSS yang tidak terpakai. Di akhir pengerjaan ini, target realistis adalah skor LCP turun ke pita 1,7-2,1 detik.
9. Lakukan Optimasi Terpisah untuk LCP Seluler
Pengguna seluler umumnya memiliki daya proses yang lebih rendah dan kualitas koneksi yang fluktuatif. Karena itu, skor LCP yang terlihat bagus di desktop bisa jadi buruk di seluler. Mengingat bobot pengalaman seluler yang tinggi dalam penilaian Google, Anda wajib melakukan pengujian dalam skenario seluler.
Dalam optimasi seluler, gambar besar dan beban JavaScript yang berat menimbulkan lebih banyak masalah. Jika Anda menggunakan video otomatis, slider besar, animasi intensif, dan konten embed eksternal di paro atas layar, target LCP akan sulit tercapai. Area hero yang sederhana, judul yang jelas, gambar yang teroptimasi, dan respons server yang cepat biasanya memberikan hasil yang lebih baik di seluler.
Peningkatan cepat untuk seluler
- Alih-alih slider, gunakan satu gambar hero yang teroptimasi.
- Daripada memutar video di paro atas, tampilkan gambar poster yang dikompresi.
- Jangan hanya menyembunyikan komponen desktop yang tidak perlu dengan CSS, tetapi jangan memuatnya sama sekali di seluler.
- Definisikan srcset yang sesuai dengan breakpoint seluler untuk gambar.
- Jalankan skrip pihak ketiga setelah pemuatan pertama.
10. Uji dan Pantau Perubahan Secara Bertahap
Salah satu kesalahan terbesar dalam optimasi LCP adalah melakukan terlalu banyak perubahan sekaligus sehingga Anda tidak bisa memahami langkah mana yang berhasil. Untuk kemajuan yang terukur, catat kondisi sebelum dan sesudah setiap perubahan. PageSpeed Insights, tampilan filmstrip WebPageTest, dan rekaman performa Chrome DevTools sangat berguna dalam proses ini.
Alur pengujian yang disarankan adalah sebagai berikut: Pertama, pilih 3-5 URL kritis seperti beranda, postingan blog dengan trafik tertinggi, halaman kategori, dan halaman konversi. Catat LCP, TTFB, elemen LCP, total ukuran halaman, dan jumlah permintaan saat ini untuk setiap URL. Kemudian, terapkan perbaikan server/cache terlebih dahulu, diikuti gambar, lalu CSS/JS, dan terakhir font. Setelah setiap tahap, uji kembali URL yang sama. Terakhir, tunggu pembaruan laporan Core Web Vitals di Google Search Console; data pengguna nyata akan menjadi lebih berarti dalam beberapa minggu.
Daftar Periksa Target LCP di Bawah 2 Detik
- Turunkan nilai TTFB sebisa mungkin di bawah 500 md.
- Identifikasi elemen LCP secara pasti dan pastikan elemen tersebut dimuat lebih awal di halaman.
- Sajikan gambar hero dalam format WebP atau AVIF, dengan ukuran yang tepat.
- Kecualikan gambar di paro atas layar dari lazy load.
- Gunakan CSS Kritis, kurangi file CSS dan JS yang tidak terpakai.
- Tunda skrip pihak ketiga yang tidak perlu.
- Kurangi jumlah dan bobot font, gunakan font-display swap.
- Konfigurasikan page cache, browser cache, object cache, dan lapisan CDN.
- Lakukan pengujian seluler secara terpisah dan lacak data pengguna nyata.
- Ukur setiap perubahan secara terpisah untuk menciptakan standar performa yang permanen.
Kesimpulan
Menurunkan skor LCP ke bawah 2 detik bukanlah sekadar pengaturan plugin sekali jadi; ini adalah pekerjaan holistik yang terdiri dari hosting, prioritas sumber daya, disiplin gambar, manajemen CSS/JS, cache, dan proses pengukuran. Hasil tercepat biasanya datang dari langkah menurunkan TTFB, mengoptimalkan gambar LCP, dan mengurangi sumber daya yang memblokir render. Untuk kesuksesan jangka panjang, Anda harus menjadikan performa sebagai bagian dari proses publikasi Anda.
Jika infrastruktur situs Anda membatasi target performa, Anda bisa memulai dengan hosting yang lebih cepat, lokasi server yang tepat, dan konfigurasi SSL yang aman. Dengan meninjau opsi hosting yang sesuai untuk website Anda di Hostragons, Anda dapat membangun fondasi yang lebih kokoh untuk LCP dan pengalaman pengguna secara keseluruhan Paket Hosting Hostragons.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa seharusnya skor LCP yang baik?
Google menganggap skor LCP di bawah 2,5 detik sebagai baik. Namun, untuk SEO yang kompetitif dan pengalaman pengguna yang lebih baik, target di bawah 2 detik adalah sasaran yang kuat. Terutama di trafik seluler, target ini dapat memengaruhi rasio konversi secara positif.
Apa yang paling memengaruhi durasi LCP?
Pengaruh paling umum adalah respons server yang lambat, gambar hero yang besar, CSS yang memblokir render, JavaScript yang berat, font yang terlambat dimuat, dan kurangnya cache. Untuk memahami faktor mana yang dominan, elemen LCP harus diperiksa dengan PageSpeed Insights dan DevTools.
Apakah menggunakan CDN menurunkan skor LCP?
Ya, terutama jika pengguna jauh dari lokasi server, CDN dapat mengurangi waktu muat dengan menyajikan file statis dari titik ujung (edge) yang lebih dekat. Namun, jika TTFB, ukuran gambar, dan sumber daya yang memblokir render masih buruk, CDN saja mungkin tidak cukup.
Apa langkah pertama untuk optimasi LCP di WordPress?
Langkah pertama adalah menentukan elemen LCP dan nilai TTFB. Setelah itu, periksa konfigurasi hosting dan cache, optimalkan gambar sampul atau hero, dan kurangi beban tema serta plugin yang tidak perlu.
Apakah lazy load baik untuk LCP?
Lazy load bermanfaat untuk gambar yang berada di bawah lipatan layar. Namun, menerapkan lazy load pada gambar di paro atas yang menjadi elemen LCP biasanya merugikan, karena browser memuat sumber daya penting ini terlambat. Gambar LCP harus dimuat dengan prioritas tinggi.