Waktu Respon Server (TTFB) adalah durasi sejak browser mengirim permintaan halaman web hingga byte pertama dari server diterima; untuk mempercepatnya, Anda perlu menggunakan infrastruktur hosting berkualitas, menerapkan cache halaman penuh, mengurangi query database, memanfaatkan CDN, serta mengoptimalkan proses DNS dan SSL. Sebagai target praktis, nilai TTFB untuk halaman statis atau yang di-cache dengan baik idealnya berada di kisaran 100-300 ms, sementara untuk halaman dengan konten dinamis umumnya diharapkan tetap di bawah 500 ms. Nilai di atas 800 ms harus dilihat sebagai sinyal perbaikan dari sisi pengalaman pengguna dan efisiensi perayapan.
TTFB sendiri tidak menjelaskan keseluruhan kecepatan situs; namun, metrik ini krusial sebagai titik awal karena menentukan seberapa cepat sisa halaman akan mulai dimuat. Khususnya pada situs WordPress, WooCommerce, portal berita, sistem keanggotaan, dan web korporat dengan trafik tinggi, keterlambatan di sisi server secara langsung memengaruhi LCP dan keseluruhan waktu buka halaman. Dalam panduan ini, kami mengupas faktor-faktor yang meningkatkan nilai TTFB, metode pengukuran, dan langkah-langkah optimasi aplikatif dengan bahasa teknis namun mudah dipahami untuk blog Hostragons.
Apa Itu TTFB dan Apa yang Diukurnya?
TTFB adalah singkatan dari Time to First Byte. Dalam bahasa Indonesia, ini berarti waktu hingga byte pertama diterima atau yang lazim disebut waktu respon server. Saat pengguna membuka sebuah halaman, browser terlebih dahulu melakukan resolusi DNS, lalu terhubung ke server, melakukan TLS/SSL handshake jika diperlukan, web server memproses permintaan, dan mengirimkan potongan data pertama. Di ujung rantai inilah, saat byte pertama sampai di browser, TTFB dinyatakan selesai.
Menganggap metrik ini hanya sebagai cerminan daya proses server adalah sebuah kekeliruan. TTFB merefleksikan dampak total dari berbagai lapisan seperti jarak jaringan, kecepatan DNS, koneksi TCP, proses SSL, konfigurasi web server, kode aplikasi, query database, I/O disk, dan strategi cache. Karena itu, optimasi TTFB yang sukses bukan sekadar memasang satu plugin; ia menuntut kontrol sistematis dari infrastruktur hingga aplikasi.
Berapa Nilai TTFB yang Ideal (dalam ms)?
Menurut pendekatan performa yang berlaku umum, target TTFB ideal dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
- 0-200 ms: Sangat baik. Biasanya terdapat konten statis, cache yang kuat, atau server CDN yang dekat.
- 200-500 ms: Baik. Ini adalah rentang yang dapat diterima untuk kebanyakan situs korporat dan instalasi WordPress yang teroptimasi.
- 500-800 ms: Dapat ditingkatkan. Kemungkinan ada query dinamis, server yang jauh, atau cache yang kurang memadai.
- 800 ms ke atas: Sinyal masalah. Sumber daya hosting, kode aplikasi, database, atau lapisan jaringan harus diperiksa.
Hal yang penting di sini adalah tidak mengambil keputusan hanya dari satu hasil tes. Pengukuran dari Jakarta bisa berbeda hasilnya dengan pengukuran dari Singapura, Amsterdam, atau lokasi lainnya. Selain itu, halaman utama, halaman produk, artikel blog, halaman keranjang, dan layar login bisa jadi tidak memiliki nilai TTFB yang sama. Oleh karena itu, melakukan pengukuran pada tipe halaman yang berbeda, di jam yang berbeda, dan jika memungkinkan dari lokasi yang berbeda akan memberikan hasil yang lebih valid.
Mengapa Waktu Respon Server (TTFB) Bisa Meningkat?
TTFB tinggi biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari beberapa keterlambatan kecil. Faktor-faktor berikut adalah penyebab yang paling sering ditemui.
1. Sumber Daya Hosting yang Tidak Memadai
Hosting bersama (shared hosting) bisa efisien untuk situs berskala kecil dan menengah jika dikonfigurasi dengan benar; namun, penggunaan yang padat di server yang sama, limit CPU, keterbatasan RAM, atau performa disk yang lambat dapat meningkatkan nilai TTFB. Terutama trafik kampanye dadakan, trafik bot yang intensif, atau proses dinamis seperti langkah pembayaran WooCommerce memerlukan sumber daya lebih besar. Dalam situasi ini, mungkin perlu beralih ke paket web hosting yang lebih optimal, menggunakan infrastruktur disk NVMe, atau mengarah ke solusi VPS. Untuk pemilihan infrastruktur yang tepat di Hostragons, Anda bisa meninjau Paket Hosting Web dan untuk proyek yang sedang berkembang, VPS Server Çözümleri.
2. Minimnya Cache
Membangun halaman dari nol untuk setiap pengunjung—menjalankan PHP, melakukan query database, dan memproses ulang komponen tema—akan meningkatkan TTFB secara signifikan. Cache halaman penuh, cache objek, dan cache browser mengurangi beban ini. Sebagai contoh, sebuah artikel blog berbasis WordPress mungkin memberikan TTFB 900 ms tanpa cache, namun dengan konfigurasi cache yang tepat, nilainya bisa turun ke rentang 180-250 ms.
3. Masalah Query Database
Khususnya pada proyek WordPress, Magento, Laravel, atau perangkat lunak kustom, query lambat adalah penyebab penting TTFB. Tabel opsi yang besar, pencarian yang tidak teroptimasi, ketiadaan indeks, operasi JOIN yang tidak perlu, dan pemakaian plugin berlebihan memperpanjang waktu proses di sisi server. Di situs WooCommerce, proses keranjang, stok, filter, dan sesi pengguna lebih "mahal" dibandingkan halaman blog statis.
4. Jarak Jaringan dan Tidak Digunakannya CDN
Semakin jauh jarak fisik antara pengguna dan server, semakin tinggi latensinya. Menempatkan situs yang menargetkan audiens Indonesia di pusat data yang jauh, misalnya di Eropa atau Amerika, dapat meningkatkan nilai TTFB terutama pada fase koneksi awal. CDN mengurangi latensi ini dengan menyajikan file statis dan, dalam beberapa kasus, output HTML dari titik edge yang lebih dekat ke pengguna. Namun, CDN dapat kontraproduktif jika salah konfigurasi; misalnya, jika HTML cache dimatikan, hanya gambar yang bertambah cepat, dan perbaikan pada sisi TTFB akan terbatas.
5. Latensi DNS dan SSL
Proses resolusi DNS yang lambat atau konfigurasi SSL/TLS yang bergantung pada protokol usang juga dapat memengaruhi waktu respon pertama. Dukungan TLS 1.3 modern, rantai sertifikat yang benar, dan penyedia DNS yang cepat akan mempersingkat waktu koneksi. Menggunakan SSL wajib untuk koneksi aman; namun, pemasangan sertifikat yang salah dapat menyebabkan penurunan performa. Untuk hal ini, Anda dapat mengevaluasi halaman sertifikat SSL dan untuk manajemen domain, Kueri Domain ve Kayıt.
Bagaimana Cara Mengukur TTFB?
Sebelum memulai perbaikan TTFB, pengukuran yang akurat wajib dilakukan. Jika tidak, dampak dari perubahan yang dibuat tidak akan bisa dipahami. Saat mengukur, disarankan untuk mengumpulkan hasil dari beberapa sumber berbeda alih-alih hanya bergantung pada satu alat.
Alat yang Dapat Digunakan
- Chrome DevTools: Di tab Network, pada bagian Timing dari permintaan dokumen, Anda dapat memeriksa bagian Waiting for server response.
- PageSpeed Insights: Memberikan gambaran performa umum dengan data pengguna nyata dan data lab.
- WebPageTest: Menyediakan analisis waterfall mendetail di berbagai lokasi, browser, dan kecepatan koneksi yang berbeda.
- GTmetrix: Memudahkan untuk melihat permintaan mana yang terlambat, terutama melalui grafik waterfall.
- Perintah curl: Untuk tim teknis, menyediakan pengukuran terminal yang cepat. Contohnya, perintah
curl -w '%{time_starttransfer}' -o /dev/null -s https://namasitus.commemberikan waktu transfer awal yang serupa dengan TTFB.
Saat mengukur, pilih tipe URL yang berbeda selain halaman utama, seperti halaman kategori, produk, artikel blog, keranjang, dan halaman login. Selain itu, sebelum tes, catat apakah status CDN dan cache sedang panas (sudah tersimpan) atau dingin (belum tersimpan). Permintaan pertama mungkin lambat karena cache dingin, sementara permintaan berikutnya cepat; perbedaan ini penting dalam strategi optimasi.
Metode Mempercepat TTFB: Panduan Penerapan Langkah demi Langkah
Langkah-langkah berikut disusun berdasarkan urutan yang paling berdampak dalam praktik. Melakukan pengukuran ulang setelah menerapkan setiap langkah akan membantu Anda memahami kontribusi dari masing-masing perubahan.
1. Pilih Infrastruktur Hosting yang Tepat
Fondasi optimasi TTFB adalah server yang dapat memproses permintaan dengan cepat. Server harus memiliki prosesor terkini, RAM yang cukup, SSD NVMe, konfigurasi LiteSpeed atau Nginx/Apache yang optimal, versi PHP terbaru, dan isolasi sumber daya yang baik. Untuk situs korporat kecil, shared hosting berkualitas mungkin sudah cukup, sementara untuk situs e-commerce dengan trafik tinggi, VPS atau server terkelola adalah pilihan yang lebih tepat. Sebagai ilustrasi, kebutuhan sumber daya situs profil perusahaan dengan 500 kunjungan per hari tidak sama dengan toko yang melayani 200 pengguna bertransaksi keranjang secara bersamaan.
Saat memilih hosting, hanya melihat kapasitas disk adalah kekeliruan. Limit CPU, RAM, batas inode, performa I/O, struktur backup, lokasi pusat data, dan kualitas dukungan juga harus dievaluasi. Jika target audiens Anda adalah Indonesia, memilih pusat data yang dekat dengan Indonesia seringkali berdampak positif pada nilai TTFB.
2. Gunakan Versi PHP dan Protokol HTTP Terkini
Perbedaan performa yang signifikan dapat terlihat antara PHP 7.4 dengan PHP 8.2 atau 8.3, khususnya di WordPress dan framework modern. Jika tema dan plugin kompatibel, beralih ke versi PHP terbaru akan mengurangi waktu proses di sisi server. Dukungan HTTP/2 dan HTTP/3 juga dapat meningkatkan efisiensi koneksi. HTTP/3, berkat protokol QUIC, memiliki potensi untuk mengurangi latensi koneksi, terutama di jaringan seluler.
Meski begitu, pengujian di lingkungan staging harus dilakukan sebelum upgrade versi. Jika sebuah plugin usang atau kode kustom mengalami error di versi PHP baru, Anda akan menghadapi masalah aksesibilitas alih-alih peningkatan performa. Karena itu, lakukan backup terlebih dahulu, lalu periksa kompatibilitasnya.
3. Terapkan Cache Halaman Penuh
Salah satu metode yang memberikan dampak tercepat pada TTFB adalah menggunakan cache halaman penuh. Di situs WordPress, output HTML dapat disimpan dengan solusi seperti LiteSpeed Cache, WP Rocket, W3 Total Cache, atau sejenisnya. Dengan demikian, proses PHP dan MySQL tidak perlu dijalankan ulang untuk setiap kunjungan di halaman yang sama. Untuk situs yang berjalan di LiteSpeed Web Server, LiteSpeed Cache biasanya memberikan hasil yang sangat kuat.
Aturan cache harus ditentukan dengan hati-hati. Artikel blog, halaman kategori, dan halaman korporat statis cocok untuk di-cache. Sementara itu, halaman keranjang, pembayaran, akun pengguna, dan panel yang dipersonalisasi kebanyakan harus dikecualikan dari cache. Aturan cache yang salah dapat menyebabkan kesalahan fatal, seperti menampilkan isi keranjang pengguna lain kepada pengguna yang berbeda.
4. Optimalkan Database
Di balik TTFB yang lambat, seringkali database adalah biang keladinya. Untuk WordPress, membersihkan revisi, komentar spam, data transien, dan opsi autoload yang tidak perlu adalah langkah awal yang efektif. Pada situs besar, catatan tidak penting yang ditandai autoload=yes di tabel wp_options akan dimuat ke memori setiap kali halaman dimuat dan dapat meningkatkan nilai TTFB.
Untuk optimasi tingkat lanjut, log query lambat harus diperiksa, indeks harus ditambahkan ke area filter dan pencarian yang sering digunakan, plugin yang tidak perlu harus dihapus, dan jumlah query harus dikurangi. Contohnya, jika sebuah halaman kategori menjalankan 180 query, struktur tema dan plugin dapat ditinjau untuk menekan jumlah ini ke rentang 60-80 query. Perbedaan ini memberikan peningkatan performa yang signifikan saat trafik sedang tinggi.
5. Gunakan Cache Objek
Solusi cache objek seperti Redis atau Memcached menyimpan hasil yang sering diambil dari database di dalam memori. Cache objek memberikan keuntungan besar, khususnya di situs keanggotaan, e-commerce, situs iklan baris, LMS, dan situs multibahasa. Cache halaman penuh tidak selalu bisa digunakan di halaman dinamis; namun, cache objek dapat mengurangi query yang berulang bahkan dalam proses dinamis sekalipun.
Di sini, kapasitas RAM server sangat penting. Konfigurasi cache objek yang agresif di atas RAM yang tidak memadai dapat menimbulkan efek sebaliknya. Oleh karena itu, statistik penggunaan harus dipantau, serta rasio cache hit dan konsumsi memori harus dikontrol.
6. Kurangi Latensi Geografis dengan CDN
CDN menyajikan konten gambar, CSS, JavaScript, dan dalam beberapa kasus HTML dari titik yang lebih dekat ke pengguna. Efek CDN yang paling kuat untuk TTFB terlihat ketika HTML edge caching atau reverse proxy cache digunakan. Hanya memindahkan file statis ke CDN memang meningkatkan kecepatan total halaman; namun, jika permintaan HTML utama masih datang dari server asal (origin) yang jauh, perbaikan TTFB akan terbatas.
Saat memasang CDN, catatan DNS, mode SSL, informasi header cache, dan aturan bypass harus dikonfigurasi dengan benar. Panel administrasi, layar pembayaran, dan halaman khusus pengguna harus dikecualikan dari cache. Selain itu, alamat IP server asal harus dilindungi dari sisi keamanan, dan aturan harus ditulis agar akses hanya diizinkan melalui CDN.
7. Kurangi Beban Tema dan Plugin
Di situs WordPress, struktur tema yang berat, page builder yang tidak perlu, terlalu banyak plugin, dan panggilan API eksternal dapat meningkatkan nilai TTFB. Tidak semua plugin buruk; tetapi, setiap plugin berpotensi berarti proses PHP, query database, dan permintaan eksternal tambahan. Plugin yang tidak digunakan jangan hanya dinonaktifkan, tetapi harus dihapus sepenuhnya.
Sebagai uji praktis, di lingkungan staging, nonaktifkan plugin satu per satu dan ukur TTFB-nya. Misalnya, plugin keamanan, backup, analitik, SEO, formulir, terjemahan, dan page builder harus dievaluasi secara terpisah. Jika modul nilai tukar mata uang, feed media sosial, atau alat live chat yang terhubung ke API eksternal menyebabkan penundaan di sisi server, ia harus dibuat asinkron atau diterapkan cache padanya.
8. Kontrol Trafik Bot dan Permintaan Berbahaya
Trafik bot yang intensif, upaya brute force, serangan XML-RPC, dan permintaan crawler yang tidak perlu menghabiskan sumber daya server dan meningkatkan nilai TTFB bagi pengguna nyata. WAF, rate limiting, plugin keamanan, optimasi robots.txt, dan analisis log sangat penting di titik ini. Khususnya, upaya login yang intensif ke halaman login WordPress dapat meningkatkan penggunaan CPU.
Langkkah keamanan diperlukan tidak hanya untuk memblokir serangan, tetapi juga untuk melindungi performa. SSL, DNS yang aman, perangkat lunak terkini, dan aturan firewall yang benar harus dipikirkan bersama. Untuk konten keamanan terkait, Anda dapat meninjau tautan Panduan Keamanan Situs Web.
Tabel Perbandingan untuk Optimasi TTFB
| Metode | Dampak yang Diharapkan | Tingkat Kesulitan Penerapan | Skenario Paling Sesuai |
|---|---|---|---|
| Hosting berkualitas atau VPS | Tinggi | Menengah | Peningkatan trafik, limit sumber daya, proses PHP lambat |
| Cache halaman penuh | Sangat Tinggi | Mudah-Menengah | Blog, situs korporat, halaman statis |
| Optimasi Database | Tinggi | Menengah-Sulit | WooCommerce, keanggotaan, situs WordPress besar |
| Penggunaan CDN | Menengah-Tinggi | Menengah | Situs dengan pengunjung dari berbagai negara |
| Update PHP/HTTP | Menengah | Mudah-Menengah | Situs yang menggunakan versi PHP lama |
| Filter Trafik Bot | Menengah | Menengah | Trafik spam, brute force, atau crawler yang intensif |
Tips Khusus TTFB untuk Situs WordPress

WordPress adalah infrastruktur fleksibel yang bisa berjalan cepat jika dikonfigurasi dengan benar; namun, ekosistem tema dan plugin membuatnya mudah menjadi berat. Pertama-tama, gunakan versi PHP terkini, tema yang tepercaya, jumlah plugin yang terbatas, dan cache di level server. Setelah itu, lakukan pembersihan database, cache objek, optimasi gambar, dan kontrol cron.
WP-Cron secara default terpicu saat ada pengunjung yang datang. Di situs dengan trafik tinggi, perilaku ini dapat menyebabkan penundaan yang tidak perlu. Mendefinisikan cron job nyata untuk menjalankan tugas terjadwal pada interval tertentu lebih efisien. Selain itu, frekuensi Heartbeat API, penggunaan admin-ajax.php, dan proses seperti WooCommerce cart fragments harus dikontrol. Penyesuaian kecil di area ini dapat memberikan perbaikan yang terasa, khususnya di panel admin dan halaman dinamis.
Mengapa TTFB di Situs E-Commerce Lebih Sensitif?
Situs e-commerce melakukan lebih banyak proses dinamis dibandingkan situs konten standar. Keranjang, pembayaran, kontrol stok, kalkulasi ongkos kirim, validasi kupon, sesi pengguna, dan rekomendasi yang dipersonalisasi seringkali tidak bisa di-cache. Karena itu, hanya mengandalkan cache halaman penuh tidaklah cukup. Untuk e-commerce, diperlukan hosting yang tangguh, database yang teroptimasi, cache objek, tema yang dikode dengan baik, dan API pembayaran/pengiriman yang responsif.
Contohnya, jika di halaman daftar produk, informasi harga, stok, dan filter dihitung dengan query kompleks untuk setiap permintaan, TTFB akan meningkat. Data ini bisa disiapkan sebelumnya pada interval tertentu, query bisa diindeks, atau mesin pencari khusus bisa digunakan untuk pencarian/filter. Pada periode kampanye, rencana skalabilitas sumber daya harus sudah disiapkan sebelumnya.
Hubungan Antara TTFB dan Core Web Vitals
Metrik Core Web Vitals berfokus langsung pada pengalaman pengguna. Meskipun TTFB bukan metrik resmi Core Web Vitals, ia memiliki dampak yang signifikan terutama pada LCP. Jika HTML terlambat datang dari server, browser juga akan terlambat menemukan CSS kritis, gambar, dan sumber daya JavaScript. Hal ini dapat menyebabkan elemen konten terbesar (LCP) ikut terlambat dimuat.
Singkatnya, jika TTFB buruk, mengoptimalkan sisa halaman menjadi lebih sulit. Meskipun gambar sudah dikompresi, CSS sudah diminifikasi, dan JavaScript sudah ditunda, jika HTML pertama datang terlambat, pengguna akan berhadapan dengan layar kosong lebih lama. Karena itu, dalam pengerjaan performa, respon server harus dibenahi terlebih dahulu, baru kemudian sumber daya yang memblokir render dan optimasi gambar ditangani bersama.
Daftar Periksa TTFB yang Aplikatif
- Lakukan pengukuran TTFB untuk halaman utama dan halaman penting dari lokasi yang berbeda.
- Periksa versi PHP dan teknologi web server.
- Konfigurasikan pengaturan cache halaman penuh dan cache browser.
- Periksa catatan yang tidak perlu, query lambat, dan beban autoload di database.
- Evaluasi opsi cache objek seperti Redis atau Memcached.
- Gunakan pusat data yang dekat dengan target audiens dan CDN jika diperlukan.
- Periksa dukungan DNS, SSL, dan HTTP/2-HTTP/3.
- Hapus plugin, tema, dan integrasi layanan eksternal yang tidak digunakan.
- Lakukan analisis log untuk trafik bot dan upaya serangan.
- Setelah setiap perubahan, uji ulang di kondisi yang sama.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Kesalahan paling umum dalam optimasi TTFB adalah memasang plugin secara acak tanpa mengukur sumber masalahnya. Menggunakan beberapa plugin cache secara bersamaan, memilih mode SSL CDN yang salah, atau salah meng-cache halaman dinamis dapat merusak situs alih-alih mempercepatnya. Kesalahan lainnya adalah hanya berfokus pada skor PageSpeed. Skor adalah indikator yang berguna; namun, tanpa analisis waterfall, log server, dan data pengguna nyata, akar masalah sulit ditemukan.
Selain itu, mengharapkan keajaiban dengan optimasi canggih di atas shared hosting yang murah tapi sangat padat adalah tidak realistis. Sebagus apa pun sisi perangkat lunaknya, jika sumber daya server tidak memadai, TTFB tidak akan turun di bawah level tertentu. Oleh karena itu, optimasi infrastruktur dan aplikasi harus direncanakan bersama.
Kesimpulan: Perbaikan Sistematis Wajib untuk TTFB Lebih Rendah
Waktu Respon Server (TTFB) adalah salah satu titik awal fundamental performa web. TTFB rendah berarti respon pertama yang lebih cepat, pengalaman pengguna yang lebih baik, perayapan yang lebih efisien, dan fondasi yang lebih kuat di sisi Core Web Vitals. Untuk hasil terbaik, hosting berkualitas, cache yang tepat, optimasi database, perangkat lunak terkini, CDN, dan langkah-langkah keamanan harus diterapkan bersama-sama.
Jika nilai TTFB situs web Anda saat ini tinggi, lakukan pengukuran terlebih dahulu, lalu lanjutkan langkah demi langkah mulai dari hambatan terbesar. Jika Anda membutuhkan infrastruktur yang lebih kuat untuk mengakomodasi trafik yang bertumbuh, Anda dapat membangun fondasi yang tepat untuk situs Anda dengan meninjau solusi hosting, VPS, domain, dan SSL dari Hostragons: Solusi Hosting Hostragons.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang harus dilakukan pertama kali untuk menurunkan TTFB?
Langkah pertama adalah melakukan pengukuran yang benar. Uji halaman yang berbeda seperti halaman utama, kategori, produk, atau blog. Setelah itu, sumber daya hosting, status cache, query database, dan konfigurasi CDN harus diperiksa secara berurutan.
Berapa nilai TTFB yang baik dalam ms?
Target umum adalah di rentang 200-500 ms. Di bawah 200 ms dianggap sangat baik, sementara nilai di atas 800 ms biasanya menandakan perlunya optimasi. Di halaman e-commerce dinamis, target bisa bervariasi tergantung tipe halamannya.
Apakah menggunakan CDN selalu menurunkan nilai TTFB?
Tidak. CDN mempercepat file statis; namun, jika permintaan HTML masih datang dari server asal, penurunan TTFB bisa terbatas. Untuk TTFB, fitur HTML cache atau reverse proxy dari CDN harus dikonfigurasi dengan benar.
Apakah plugin WordPress meningkatkan nilai TTFB?
Ya, khususnya tema yang berat, plugin yang tidak perlu, panggilan API eksternal, dan banyaknya query database dapat meningkatkan nilai TTFB. Plugin yang tidak digunakan harus dihapus, dan komponen yang menghasilkan query lambat harus dianalisis.
Apakah TTFB pasti turun jika ganti hosting?
Hosting adalah faktor penting; namun, bukan jaminan satu-satunya. Jika sumber daya server tidak memadai, ganti hosting bisa membuat perbedaan besar. Tetapi jika masalahnya ada di kode aplikasi, database, atau konfigurasi cache yang salah, area tersebut juga harus dioptimalkan.